Ketika saya mengecek twitter pagi ini, saya menyadari ada message dari seorang sahabat saya yang belum terbalas. Seseorang yang sudah sekian lama, menjadi salah satu tempat saya berpulang ketika saya mencari kekuatan. Meskipun dia berada jauh di seberang sana, dia selalu terasa dekat. Email, Twitter, Facebook, SMS, Chatting, kami sudah melalui semua itu. Pertama saya pikir, itu semua yang bisa memapas jarak diantara kita.
Begitu juga dengan salah satu sahabat saya yang sekarang sedang melanjutkan studinya di luar negri. Pada awalnya ketika dia akan pergi, saya berpikir semua akan terasa sulit. Tidak ada lagi orang yang selalu saya gentayangin setiap hari. Tawa-tawa yang biasa dibagi akan sulit didapat lagi. Saya takut kesepian. Jadi kemarin itu begitu berat rasanya melepas dia pergi. Saya sampai terjaga di malam sebelum dia berangkat. Diam-diam berharap punya kemampuan untuk mengulur-ngulur waktu. Namun sekali lagi, ternyata dengan semua alat komunikasi yang ada, kesepian itu tidak terlalu menyiksa. Dia tetap saja terasa dekat. Jarak bisa tidak terlalu berarti.
Tapi ternyata pagi ini ketika membaca lagi pembicaraan kami lewat message dan media-media lain, saya tiba-tiba menyadari, bukan itu semua itu yang tetap membuat saya merasa dekat dengan mereka. Saya menyadari "KETULUSAN" lah yang membuat semua jarak itu terpangkas.
Ketulusan untuk menanyakan kabar satu sama lain, ketulusan untuk selalu ada ketika dibutuhkan, ketulusan untuk selalu berlari kepada satu sama lain ketika kita dirundung masalah dan ragu, ketulusan untuk selalu berbagi semangat, ketulusan untuk selalu berbagi kebahagiaan, ketulusan untuk selalu berbagi mimpi, ketulusan untuk selalu berbagi apa saja.
Pada akhirnya ketulusan untuk peduli atas satu sama lain. Bukan hanya sekedar basa-basi biasa dengan maksud terselubung.
Dan saya bersyukur sekali bisa diberi kesempatan bertemu dengan orang-orang yang membuat saya bisa belajar berbagi ketulusan itu.
Pagi ini karena percakapan dengan kedua orang sahabat itu, saya teringat akan satu qoute yang pernah saya baca entah di mana:
"Sahabat itu seperti bintang. Mereka tidak selalu kelihatan, tapi mereka selalu ada."
Benar. Sahabat-sahabat saya itu tidak bisa saya lihat setiap harinya tapi mereka selalu ada untuk saya, meskipun di seberang sana. Karena kita terhubung benang yang disebut ketulusan.
30 Apr 2011
22 Apr 2011
Hujan
Hujan membuat siang jadi sendu
Entah mengapa, aku semakin mengingat kamu
Kekasih hati,
apa kabarmu hari ini?
aku ingin tahu kamu ada di mana
Tetapi tangan ini kaku,
otak ini buntu,
lidah ini kelu
Termakan oleh logika, kenyataan yang ada
Tinggal hati yang tidak beku,
berbisik melalui angin,
"Aku rindu kamu. Menggebu-gebu"
Entah mengapa, aku semakin mengingat kamu
Kekasih hati,
apa kabarmu hari ini?
aku ingin tahu kamu ada di mana
Tetapi tangan ini kaku,
otak ini buntu,
lidah ini kelu
Termakan oleh logika, kenyataan yang ada
Tinggal hati yang tidak beku,
berbisik melalui angin,
"Aku rindu kamu. Menggebu-gebu"
19 Apr 2011
Winning Fano's Feeling
Beberapa waktu yang lalu, saya seperti biasa mampir ke web NulisBuku untuk melihat buku-buku baru apa yang menarik. Lalu perhatian saya tertuju pada satu novel dengan judul "WINNING FANO'S FEELING". Saya pun membaca sinopsisnya karena penasaran.
"Demi balas budi Rema bersedia membantu sang sahabat, Airin, yang tengah terlibat dalam taruhan untuk mendapatkan seorang cowok. Rema kemudian gabung ke ekskul sepakbola sekolah sebagai manajer klub karena sang target taruhan yakni Di Stefano, murid baru blesteran Indo-Argentina, tergabung dalam tim sepakbola sekolah sebagai pemain inti. Begitu masuk ke klub tersebut, alih-alih berusaha mencari informasi tentang si target sebanyak mungkin dan berusaha mendekatinya, Rema justru malah terpacu untuk membenahi kondisi tim bola yang sedang krisis. Tumbuh tekad yang kuat dalam diri Rema untuk mengangkat tim demi mencapai target lolos semifinal kejurnas sepakbola antar-smu. Berhasilkah Rema bersama timnya mencapai impian mereka? Dilain itu, kehidupan Rema juga akan diwarnai kisah cinta segitga antara dirinya, sang target, dan kapten tim 'Bima' yang diam-diam telah lama Rema sukai"
Okay, personally i love football. and also the 'football' guys.
Meskipun saya bukan lagi penggemar teenlit, saya tetap tertarik untuk membacanya. Ya karena aspek football itu sendiri.Berapa banyak sih novel yang mengambil latar belakang sepakbola? jarang kan? Dan plus lagi, saya penasaran tentang kisah pria bernama Fano itu. Seorang blasteran Indo-Argentina yang dijadikan target taruhan.
Belum sempat beli, tiba-tiba sang pengarangnya berbaik hati mau membagikan bukunya secara gratis. Saya pasti dong maju pantang mundur buat dapetin buku itu. Dan ternyata keberuntungan sedang ada di pihak saya, i got the book for free!
Begitu buku ini sampai di tangan saya, dengan senang riang saya langsung membacanya. Saya penasaran tentang si Fano, Rema, dan lainnya. Sungguh deh.
Ternyata begitu sekali saya membaca bab pertama, saya ga bisa berhenti baca. Serius. 'WINNING FANO'S FEELING' benar-benar membuat saya ingin terus terus tahu kelanjutan ceritanya. Dan buku ini benar-benar beda sama teenlit-teenlit yang pernah saya baca, karena awalnya saya pikir ceritanya cuma sekedar cerita. Haha-hihi saja. Ternyata GA SAMA SEKALI.
Banyak banget pesan moral yang diselipin di bagian-bagian alur cerita. Tentang semangat pantang menyerah, tentang persahabatan, tentang kejujuran. Misalnya seperti quote ini:
"It's not failure that embarassing, what's embarassing is not making the challenge"
Bagi yang suka sama cowo ganteng nan misterius, siap-siap senyum-senyum sendiri sepanjang baca buku ini (ga terkecuali saya. sampai disangka gila sama temen-temen yang ada di dekat saya karena keseringan terpekik sendiri sepanjang baca buku ini). Yang suka adegan romantis, banyak banget santapan lezat buat kalian. Favorit saya adalah adegan ini:
"Eh, Fan!", panggil Rema dengan cepat. "Kalau jawabannya gue kasih besok, lo mau dengar ga?"
Fano terperangah. "Yang benar, Re?", tanyanya masih tak percaya.
Rema mengangguk malu. "Mungkin kalau besok lo cetak gol dan bawa tim kita ke perempat final, gue akan sangat mempertimbangkan.", candanya.
Fano terkekeh lucu. Hatinya terasa begitu bahagia. "Oke gue pegang janji lo. Lihat besok pasti gue akan bawa tim kita menang.", yakinnya tanpa keraguan seperti biasa, Fano memang tipe orang yang penuh percaya diri. Sifat yang tidak Rema miliki.
"Ok! gue akan lihat baik-baik.", sahut Rema balas menantang. Keduanya serentak tertawa, lalu saling bertatapan penuh arti dari kejauhan. Waktu terasa berhenti saat itu.
Saat baca adegan di atas, saya tiba-tiba pengin banget jadi Rema. What a lucky girl!!!
Saya jadi pengin SMA lagi, biar bisa ngerasain taksir-taksiran semacam kisah REMA-BIMA-FANO lagi. Cinta segitiga yang manis kaya gulali, bukan ribet kaya lintasan balap mobil. Cinta yang ga kenal logika-logika ribet buat jadi fondasinya.
"WINNING FANO'S FEELING" IS A MUST READ!!! Terutama bagi kita yang kangen sama cerita cinta manis dan ga ribet.
"Demi balas budi Rema bersedia membantu sang sahabat, Airin, yang tengah terlibat dalam taruhan untuk mendapatkan seorang cowok. Rema kemudian gabung ke ekskul sepakbola sekolah sebagai manajer klub karena sang target taruhan yakni Di Stefano, murid baru blesteran Indo-Argentina, tergabung dalam tim sepakbola sekolah sebagai pemain inti. Begitu masuk ke klub tersebut, alih-alih berusaha mencari informasi tentang si target sebanyak mungkin dan berusaha mendekatinya, Rema justru malah terpacu untuk membenahi kondisi tim bola yang sedang krisis. Tumbuh tekad yang kuat dalam diri Rema untuk mengangkat tim demi mencapai target lolos semifinal kejurnas sepakbola antar-smu. Berhasilkah Rema bersama timnya mencapai impian mereka? Dilain itu, kehidupan Rema juga akan diwarnai kisah cinta segitga antara dirinya, sang target, dan kapten tim 'Bima' yang diam-diam telah lama Rema sukai"
Okay, personally i love football. and also the 'football' guys.
Meskipun saya bukan lagi penggemar teenlit, saya tetap tertarik untuk membacanya. Ya karena aspek football itu sendiri.Berapa banyak sih novel yang mengambil latar belakang sepakbola? jarang kan? Dan plus lagi, saya penasaran tentang kisah pria bernama Fano itu. Seorang blasteran Indo-Argentina yang dijadikan target taruhan.
Belum sempat beli, tiba-tiba sang pengarangnya berbaik hati mau membagikan bukunya secara gratis. Saya pasti dong maju pantang mundur buat dapetin buku itu. Dan ternyata keberuntungan sedang ada di pihak saya, i got the book for free!
Begitu buku ini sampai di tangan saya, dengan senang riang saya langsung membacanya. Saya penasaran tentang si Fano, Rema, dan lainnya. Sungguh deh.
Ternyata begitu sekali saya membaca bab pertama, saya ga bisa berhenti baca. Serius. 'WINNING FANO'S FEELING' benar-benar membuat saya ingin terus terus tahu kelanjutan ceritanya. Dan buku ini benar-benar beda sama teenlit-teenlit yang pernah saya baca, karena awalnya saya pikir ceritanya cuma sekedar cerita. Haha-hihi saja. Ternyata GA SAMA SEKALI.
Banyak banget pesan moral yang diselipin di bagian-bagian alur cerita. Tentang semangat pantang menyerah, tentang persahabatan, tentang kejujuran. Misalnya seperti quote ini:
"It's not failure that embarassing, what's embarassing is not making the challenge"
Bagi yang suka sama cowo ganteng nan misterius, siap-siap senyum-senyum sendiri sepanjang baca buku ini (ga terkecuali saya. sampai disangka gila sama temen-temen yang ada di dekat saya karena keseringan terpekik sendiri sepanjang baca buku ini). Yang suka adegan romantis, banyak banget santapan lezat buat kalian. Favorit saya adalah adegan ini:
"Eh, Fan!", panggil Rema dengan cepat. "Kalau jawabannya gue kasih besok, lo mau dengar ga?"
Fano terperangah. "Yang benar, Re?", tanyanya masih tak percaya.
Rema mengangguk malu. "Mungkin kalau besok lo cetak gol dan bawa tim kita ke perempat final, gue akan sangat mempertimbangkan.", candanya.
Fano terkekeh lucu. Hatinya terasa begitu bahagia. "Oke gue pegang janji lo. Lihat besok pasti gue akan bawa tim kita menang.", yakinnya tanpa keraguan seperti biasa, Fano memang tipe orang yang penuh percaya diri. Sifat yang tidak Rema miliki.
"Ok! gue akan lihat baik-baik.", sahut Rema balas menantang. Keduanya serentak tertawa, lalu saling bertatapan penuh arti dari kejauhan. Waktu terasa berhenti saat itu.
Saat baca adegan di atas, saya tiba-tiba pengin banget jadi Rema. What a lucky girl!!!
Saya jadi pengin SMA lagi, biar bisa ngerasain taksir-taksiran semacam kisah REMA-BIMA-FANO lagi. Cinta segitiga yang manis kaya gulali, bukan ribet kaya lintasan balap mobil. Cinta yang ga kenal logika-logika ribet buat jadi fondasinya.
"WINNING FANO'S FEELING" IS A MUST READ!!! Terutama bagi kita yang kangen sama cerita cinta manis dan ga ribet.
4 Apr 2011
Curhat Cinta & Secangkir Caffeine
Pertama melihat judul buku ini, rasa penasaran saya langsung timbul. Ingin tahu, apa yang sekiranya isi dari buku tersebut. Apakah yang membuat buku itu diberi judul dengan kata 'curhat cinta'.
Terlebih lagi ketika saya mengetahui dari pengarangnya sendiri, bahwa ini adalah bentuk curhatan cintanya dalam kehidupan nyata. Saya makin penasaran untuk membaca. Karena bukankah mendengar curhat cinta seseorang itu seperti mengandung kesenangan tersendiri?
Dan ternyata buku ini benar-benar spesial. Banyak perasaan cinta yang tersampaikan dengan kata-kata indah.
Buku ini berisikan cerita pendek, tweets, surat-surat, dll. ungkapan-ungkapan cinta yang tidak terpaku oleh jenis bentuk karangan. Saya tidak bisa berhenti tersenyum dan terenyuh membaca penyampaian cinta yang ditulis Kak Wangi.
Beberapa yang menjadi favorit saya contohnya adalah:
"LAST LETTER FOR ROMEO"
"The way you spent your time through calling me every night until i fell asleep. And you always texted me when i needed you the most. Happiness was all around. Would it be ever happen again?"
Kutipan itu saya anggap sangat mewakili perasaan patah hati. Surat untuk Romeo itu benar-benar membuat saya tertegun membacanya. Ketika penyesalan selalu datang belakangan. Ketika kita baru tahu bahwa seseorang itu amat berharga saat kita kehilangan dia.
Lalu ada lagi, "THE E-LOVE LETTERS"
berisikan 13 surat cinta untuk seorang pria. Spesialnya karena surat cinta itu masing-masing ditulis dari negara yang berbeda. Paris, London, New York, Dublin antara lain menjadi latarnya. Membaca surat-surat tersebut membuat saya merasa ikut dibawa berada di negara tersebut. Dan saya ikut merasa jatuh cinta dan bertanya-tanya terhadap kekasihnya, seperti yang dialami si penulis surat tersebut.
"Uda, aku rindu senyum Uda. Sayang sekali, senyum Uda tak bisa dikirimkan lewat surat."
"Akankah kita berakhir bahagia? menikah? menghabiskan sisa waktu kita bersama selamanya? kalo iya, bisakah kita menikah di Praha, Uda?"
Serta ada lagi kumpulan tweets #DearUda yang sukses membuat saya cekikikan sendiri.
Rasa patah hati, jatuh cinta, ragu, marah yang digambarkan di dalam buku ini dengan cerita-cerita yang berbeda, membuat buku ini menjadi wajib untuk dibaca. Kak Wangi benar-benar berhasil melukiskan semuanya dengan bahasa yang menyentuh dan lugas.
Curhat Cinta & Secangkir Caffeine membuat saya tenggelam dalam kisah-kisahnya :)
Terlebih lagi ketika saya mengetahui dari pengarangnya sendiri, bahwa ini adalah bentuk curhatan cintanya dalam kehidupan nyata. Saya makin penasaran untuk membaca. Karena bukankah mendengar curhat cinta seseorang itu seperti mengandung kesenangan tersendiri?
Dan ternyata buku ini benar-benar spesial. Banyak perasaan cinta yang tersampaikan dengan kata-kata indah.
Buku ini berisikan cerita pendek, tweets, surat-surat, dll. ungkapan-ungkapan cinta yang tidak terpaku oleh jenis bentuk karangan. Saya tidak bisa berhenti tersenyum dan terenyuh membaca penyampaian cinta yang ditulis Kak Wangi.
Beberapa yang menjadi favorit saya contohnya adalah:
"LAST LETTER FOR ROMEO"
"The way you spent your time through calling me every night until i fell asleep. And you always texted me when i needed you the most. Happiness was all around. Would it be ever happen again?"
Kutipan itu saya anggap sangat mewakili perasaan patah hati. Surat untuk Romeo itu benar-benar membuat saya tertegun membacanya. Ketika penyesalan selalu datang belakangan. Ketika kita baru tahu bahwa seseorang itu amat berharga saat kita kehilangan dia.
Lalu ada lagi, "THE E-LOVE LETTERS"
berisikan 13 surat cinta untuk seorang pria. Spesialnya karena surat cinta itu masing-masing ditulis dari negara yang berbeda. Paris, London, New York, Dublin antara lain menjadi latarnya. Membaca surat-surat tersebut membuat saya merasa ikut dibawa berada di negara tersebut. Dan saya ikut merasa jatuh cinta dan bertanya-tanya terhadap kekasihnya, seperti yang dialami si penulis surat tersebut.
"Uda, aku rindu senyum Uda. Sayang sekali, senyum Uda tak bisa dikirimkan lewat surat."
"Akankah kita berakhir bahagia? menikah? menghabiskan sisa waktu kita bersama selamanya? kalo iya, bisakah kita menikah di Praha, Uda?"
Serta ada lagi kumpulan tweets #DearUda yang sukses membuat saya cekikikan sendiri.
Rasa patah hati, jatuh cinta, ragu, marah yang digambarkan di dalam buku ini dengan cerita-cerita yang berbeda, membuat buku ini menjadi wajib untuk dibaca. Kak Wangi benar-benar berhasil melukiskan semuanya dengan bahasa yang menyentuh dan lugas.
Curhat Cinta & Secangkir Caffeine membuat saya tenggelam dalam kisah-kisahnya :)
Langganan:
Postingan (Atom)

