4 Feb 2011

Untuk Kawan

Untuk kawan,

Terima kasih atas kata rindu yang kau kirim dari jauh. Pernahkah terlintas bahwa semua itu terdengar lucu? Kita manusia independen yang kembali bertemu, menyusun hubungan hanya berdasar pada kenangan masa lalu. Mungkin terutama, keluguan yang pernah menjadi milik kita. Sebab pada masa itu, kita berteman bukan karena sesuatu. Teman adalah teman. Tanpa penjelasan.

Dan sekarang kita terlihat seperti saling bergantung. Hanya tarian kata lewat media yang menyatukan kita. Tapi, entah mengapa, itu terasa cukup. Cukup untuk tawa. Cukup untuk tangis. Juga cukup untuk rindu. Tetapi justru di situ titik balik kita. Apa benar kita saling bergantung?  Apa benar kita saling merindu?

Namun, pada akhirnya aku memutuskan untuk melayang bukan terhempas. Seberapa pentingkah makna tergantung? Seberapa pentingkah makna rindu? Persahabatan memiliki arti lebih dari itu. Hubungan kita cukup berada di jalan lurus, tidak perlu ada cabang sebagai penjelasan dari misteri rasa yang selalu muncul.

Tarian kata lewat media akan selalu menyatukan kita.
Terima kasih telah mencintaiku bukan atas nama cinta.


-12 Juni-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar